Feeds:
Tulisan
Komentar

Jalur Gaza harus menelan kerugian setidaknya $1,4 milliar akibat serangan membabi buta Israel yang meluluhlantakkan sejumlah sarana vital seperti bangunan, jalan, pipa, pusat-pusat pembangkit energi serta sarana penting lainnya. Demikian perkiraan salah seorang surveyor Palestina.
Lebih jauh disebutkan bahwa bantuan negara Arab dan sejumlah negara barat sangat diharapkan dalam proses revitalisasi jalur Gaza yang diestimasi akan akan berlangsung selama kurang lebih 5 tahun.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa mereka telah berhasil melumpuhkan jaringan-jaringan penting tentara Hamas seperti 250 pusat persembunyian tentara, persediaan senjata dan peluncur roket sejak 27 Desember lalu.
Sumber: www.msnbc.msn.com

Ini dia jumlah populasi terbesar di 20 kota di dunia. Wah… Jakarta ada di urutan ke 11 !
1. Shanghai, China 13.3 million
2. Mumbai (Bombay), India 12.6 million
3. Buenos Aires, Argentina 11.92 million
4. Moscow, Russia 11.3 million
5. Karachi, Pakistan 10.9 million
6. Delhi, India 10.4 million
7. Manila, Philippines 10.3 million
8. Sao Paulo, Brazil 10.26 million
9. Seoul, South Korea 10.2 million
10. Istanbul, Turkey 9.6 million
11. Jakarta, Indonesia 9.0 million
12. Mexico City, Mexico 8.7 million
13. Lagos, Nigeria 8.68 million
14. Lima, Peru 8.38 million
15. Tokyo, Japan 8.3 million
16. New York City, USA 8.09 million
17. Cairo, Egypt 7.6 million
18. London, UK 7.59 million
19. Teheran, Iran 7.3 million
20. Beijing, China 7.2 million

Revisi data 10 Januari 2004

Sumber: www.worldatlas.com

Indonesia-ku

1. China 1,306,313,800
2. India 1,080,264,400
3. USA 295,734,100
4. Indonesia 241,973,900
5. Brazil 186,112,800
6. Pakistan 162,419,900
7. Bangladesh 144,319,600
8. Russia 143,420,300
9. Nigeria 128,772,000
10. Japan 127,417,200

Revisi data Pebruari, 2006

Sumber: www.worldatlas.com

Percaya atau tidak

1. Hampir 25% populasi di dunia adalah warga negara/keturunan China

2. Hari Natal ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1890 di Amerika Serikat

3. Sapi mengeluarkan keringat melalui hidung

4. Rusa hanya tidur selama 5 menit setiap harinya

5. Diperkirakan sekitar 250 juta televisi beroperasi di China

6. Lumba-lumba ternyata bisa melihat dua arah berbeda dan dapat tidur dengan   sebelah mata terbuka

7. Kecoak kentut tiap 15 menit, hihihi…

8. China adalah negara pertama yang menggunakan uang kertas

Para dokter di China benar-benar kebingungan setelah seorang pasien mengeluhkan keringatnya yang tiba-tiba berwarna hijau. Cheng Shunguo, 52, yang berasal dari kota Wuhan mengatakan bahwa kejadian ini telah berlangsung sejak pertengahan Nopember tahun lalu (2007) Pernyataannya sungguh sangat mencengangkan, “Pakaian dalam dan kain sprei saya semua berwarna hijau, bahkan air shower pun berwarna serupa” Kejadian ini membuatnya sangat tidak nyaman selama beberapa bulan terakhir ini.

Tim medis setempat kemudian melakukan beberapa langkah untuk mengecek kebenaran keluhan Cheng dengan membersihkan daerah sekitar lengan Cheng. Dalam hitungan 10 menit, keringat berwarna hijau itu berubah warna sama seperti keringat normal. Akan tetapi tidak lama kemudian berubah lagi menjadi hijau. Sampel darah Cheng pun normal-normal saja setelah diadakan uji laboratorium oleh para dokter. Hingga saat ini, Cheng masih harus bersabar sampai tim dokter menemukan cara jitu untuk mengembalikan keringatnya seperti sedia kala.

Entah apa yang mengingatkan saya pagi ini pada Indomie, santapan kebanyakan orang Indonesia. Mungkin karena dua hari ini makanan itu yang sempat ‘menyelamatkan’ saya gara-gara terlalu sibuk dengan kerjaan yang tidak memungkinkan untuk masak dan mencari makanan di luar. Memang mi instant itu selalu ada dan selalu menjalankan perannya seperti niat empunya.

Popularitas Indomie di Indonesia memang tidak meragukan lagi. Kadang kita mengkonsumsi jenis mi instant lain tapi tetap saja menyebutnya Indomie. Menggelikan, tapi itulah ungkapan yang tidak jarang saya dengar dari para penggemar mi instant. Sampai April tahun lalu pun saya menganggap bahwa makanan ini hanya populer di Indonesia. Ternyata setelah itu anggapan saya berubah total. Pikiran saya terlalu dangkal.

 Pekan pertama menginjakkan kaki di negeri kanguru ini ternyata Indomie sangat mudah ditemukan. Maraknya ‘Asian Groceries’ sangat membantu para mahasiswa/i untuk tetap mengandalkan jenis mi instant ini dan tidak kalah hebatnya lagi, supermaket pun menyediakannya dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan berbekal uang $1, konsumen sudah bisa memperoleh 4 bungkus mi dengan perhitungan 25 c/kemasan. Kalau dikonversi ke Rupiah jadinya Rp 8575/4 bungkus.  Wah, bisnis yang menjanjikan. Di Indonesia mungkin harganya berkisar Rp 1000. Tidak terlalu berlebihan kalau memang Indomie sangat diminati. Tiap kali saya mengunjungi toko penyedia mi ini, selalu saja saya mendapati rak yang nyaris kosong dan tentu saja selalu saja ada pelanggan yang sibuk memilah jenis rasa apa yang mereka sukai. Boleh dibilang kalau Indomie inilah yang paling laris dibandingkan dengan produk Indonesia lainnya. Belum sempat bertanya sih ke pemilik toko, tapi bertolak dari pengamatan saya, konsumen makanan ini paling tidak mengambil dua kemasan selama transaksi.

Beberapa bulan lalu saya menghadiri acara makan siang di salah satu universitas dan sempat berbincang dengan salah seorang penduduk asli Australia. Setelah ngobrol kesana kemari, ternyata topiknya sampai juga ke makanan. Dia mengaku suka Indomie karena aromanya yang tidak terlalu tajam dan lumayan akrab dengan lidah mereka. Lain lagi dengan seorang teman dari Pakistan yang menyenangi makanan ini karena bumbunya yang kurang lebih sama dengan makanan khas mereka. Teman-teman dari negara lain pun juga mengungkapkan hal serupa. Bahkan terkadang mereka mengandalkan mi instant “Indomie” sama seperti orang-orang dimana makanan ini berasal.

Memang harus diakui bahwa jaringan bisnis ini sudah begitu kuatnya hingga produknya bukan lagi hanya terbatas pada bisnis nasional tapi juga telah mendunia dan tidak diragukan lagi kalau santapan ini bukan hanya menjadi menu andalan pada saat-saat urgent tapi juga dikonsumsi sebagai santapan wajib buat sebagian orang. Bagaimana dengan anda?

Unbelievable! Itu merupakan kata pertama yang bisa saya ucapkan saat menyaksikan konser Celine Dion untuk pertama kalinya, tepatnya tanggal 2 April 2008 di Rod Lover Arena, Melbourne, Australia. Konser yang berlangsung sekitar tiga jam itu benar-benar sempurna dan saya yakin penikmat konser yang lain akan menyatakan hal yang sama. Sebenarnya show tersebut sejatinya diadakan sehari sebelumnya. Jadwal semula tertunda akibat infeksi kerongkongan yang diderita Celine. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi animo fansnya mengingat penampilan sang pelantun My Heart Will Go On ini benar-benar maksimal. Satu hal yang dia ungkapkan sebagai rasa penyesalannya bahwa menunda konser jauh lebih sulit dibandingkan membawakan lagu di depan para penggemarnya. Ungkapan ini desertai hingar bingar aplaus dan teriakan audiens yang memenuhi stadion Rod Lover.

Sebelumnya, konser dibuka oleh Anthony Callea, sang Runner Up Australian Idol sekaligus pelantun The Prayer. Penampilan Anthony benar-benar memukau yang kemudian disusul oleh Celine Dion dengan hits terbarunya Taking Chances beserta lagu lainnya seperti I Am Your Angel, Power of Love, I Am alive, Alone, I Drove All Night, A New Day Has Come, My Love dan lain sebagainya yang ditutup dengan My Heart Will Go On. Konser Celine tidak saja diusung oleh kru musik yang luar biasa tapi juga didukung oleh para penari latar yang sangat memukau. Benar-benar konser spektakular dan matang.

Interaksi sang bintang ini juga tidak kalah mengagumkannya sehingga audiens tidak saja datang sebagai penonton akan tetapi turut bernyanyi dan bahkan turut menirukan gerakan-gerakan Celine dan para penari latar. Tidak lupa, audiens menyanyikan lagu Happy Birthday mengingat Celine yang baru saja menginjak usia 40 tahun. What a great singer! That’s what I can utter ^_^

Cold Sore

Cold Sore adalah salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh sebagian orang yang bermukim di negeri Kanguru ini. Pada awalnya, kami berasumsi bahwa penyakit ini adalah alergi yang ditimbulkan oleh beberapa makanan tertentu. Ternyata, setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka menyimpulkan bahwa Cold Sore adalah infeksi yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) yang katanya sangat berbeda dengan virus yang penyebab demam.

Infeksi pertama seringkali didapati pada usia kanak-kanak berupa penyebaran virus melalui kulit yang kemudian menyebar ke sistem syaraf dan akhirnya terendap di antara syaraf-syaraf untuk kemudian bereaksi setelah ada faktor-faktor pemicu seperti demam dan influenza, menstruasi, gangguan emosional dan stress, sinar matahari, gangguan pada pencernaan, kecapean dan luka fisik. Penyakit ini ditandai dengan rasa gatal, panas dan perih yang kadang menyebabkan bengkak dan lepuhan pada daerah sekitar bibir penderita.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada saat timbulnya penyakit ini adalah: mengingat penyakit ini sangat rentan terinfeksi, penderita sangat dianjurkan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah menyentuh daerah yang terjangkit penyakit. Penderita dilarang keras menyentuh mata ataupun menggunakan saliva (air ludah) pada saat memasang kontak lensa. Disamping itu, penderita dianjurkan untuk menghindari kontak dengan anak kecil yang rentan terjangkit oleh Cold Sore. Alat-alat minum dan makan juga tidak diperbolehkan untuk digunakan bersama dengan non-penderita. Demikian juga dengan handuk dan alat-alat mandi.

Penyakit ini memang kedengarannya sepele, tapi lumayan menyita perhatian penderitanya. Salah satu teman yang kebetulan seorang apoteker menyatakan bahwa penyakit yang menyerang syaraf ini paling sering menyerang daerah wajah terutama bibir dan daerah sekitar hidung. Uniknya, cold sore yang berupa bisul/radang atau sejenisnya ini selalu berada di sebelah kanan atau sebaliknya atau dengan kata lain tidak pernah berada tepat di tengah-tengah, misalnya bibir sebelah kiri atau kanan. Untuk pengobatannya, seringkali penderita dianjurkan menggunakan cream tertentu, mengkonsumsi vitamin C, menghindari stress dan kelelahan. Rata-rata cold sore penderita cold sore sembuh dalam jangka seminggu atau dua minggu dengan perawatan rutin sesuai anjuran dokter atau pihak yang berkompeten menangani penyakit ini.

This material is the continuation of the previous week. In groups of four, we were required to choose one of our fellows who has taught EFL/ESL in his/her country. During the presentations, each model demonstrated different implementations of ELT due to the fact that they came from different countries, cultural backgrounds, experiences, beliefs of teaching and learning process, level of students taught as well as the curriculum requirements. In general, I think that it is not too exaggerated to categorize them as the good L2 models apart from their status as non-NESTs since they shared what the L2 models should do in teaching.

Having read Littlewood’s (2004) illustration of positive influence of classroom instruction on the L2 learners progress, I think it is reasonable to carry out this strategy in countries where learners obtain insufficient English exposure. I did it when I taught English beginners. As my students’ competence increased gradually, I tried to minimize the use of instruction frequently. It was because of my anxiety whether my students would dominantly relied on instruction given or the class turned into teacher-centered. How to keep the balance between learning the L2 through instruction and learning independently?

The range of interaction hypothesis demonstrated by Littlewood (2004), are very interesting to be discussed. I like Vygotsky’s (1930s) concept about the essential role of social interaction on learners’ progress. As a learner, I enjoy group discussion a lot because we can share our ideas freely and gained various inputs both from the teacher and our fellows. I think that this concept is best introduced to both L2 teachers and prospective teachers since some classes are still teacher-centered class that do not provide wider spaces for the L2 learners to develop their knowledge independently. In other words, teacher acts as the only speaker during the class whilst students remain as the listeners.

Reference

Littlewood, W. (2004), Second language learning. In A. Davies & Elder, C. (Eds.), The handbook of applied linguistics (pp. 502-523). Blackwell, Oxford.

It is not easy to interpret what the native speaker is since some experts view it differently. Both Davies (1991, 2003) and Coppieters (1987) stress that to be a native speaker, the L1 is best acquired in early childhood even though there is still a possibility for the L2 post puberty learners to be the native speakers. Does this indicate that the L2 post puberty learners are likely to be the native speakers-like rather than the native speakers?

In expanding circle country like Indonesia, the role of English increases rapidly every year. I wonder whether this means that the local languages will be replaced by English. If yes, what sort of preventive actions should be implemented concerning with this condition? Phillipson’s (1992) notion about the growth of English speakers that results in the elimination of local languages reminds me to a friend of mine who teaches in one of the primary schools in Indonesia. She informed me that most of the teaching and learning materials and methods are adopted from Western educational system. More surprisingly, English is used as a medium of instruction while the proportion of Indonesian language is as equal as other subjects. It is important to note that none of the teachers is native speaker and only two of them who studied overseas several years ago. Is there any possibilities for those students to be the native speakers while they never have taught by native speaker teachers?

In fact, what Philipson (1992) says about the lose of native speakers’ identity is right. It is clear that there will be the degeneration of local languages since it’s role has been taking by the L2. However, I am still questioning about Davies’ (2003) statement that Denmark, the Netherlands and Sweden are examples of countries which succeed in both maintaining their L1s and attaining English. Who are the L2 learning models? Are they NESTs or non-NESTS? How about their curriculum requirements of L2 teaching?

Reference

Davies, A. (2004). The native speaker in applied linguistics. In A. Davies & Elder, C. (Eds.), The handbook of applied linguistics (pp. 431-449). Blackwell, Oxford.

Tulisan Sebelumnya »