Tidak terasa sudah empat pekan aku kembali lagi bergelut dengan rutinitas kampus setelah lebih dari dua bulan liburan. Topik bahasan siang ini sangat menarik. Kami membahas tentang pengaruh aksen dalam penggunaan bahasa Inggris baik oleh penutur asli maupun penutur asing. Seorang teman dari Oman menayangkan hasil rekamannya sesaat sebelum kuliah hari ini dimulai. Ada 3 rekaman dengan 3 pembicara yang isinya kurang lebih mengungkapkan seberapa besar pengaruh aksen buat mereka dan apakah mereka berniat atau berusaha merubah aksen mereka selama bertutur dalam bahasa Inggris. Ketiga penutur mengungkapkan hal yang sama bahwa sebenarnya aksen tidak terlalu penting walaupun buat sebagian orang hal ini sangatlah penting untuk menunjang interaksi mereka dalam bahasa asing ataupun untuk kepentingan lainnya. Hal yang paling penting adalah bagaimana agar lawan bicara kita dapat mengerti maksud kita.
Dalam diskusi hari ini, beberapa teman mengungkapkan pengalaman mereka berkenaan dengan aksen. Diantara mereka ada yang sepakat bahwasanya aksen itu sangat berpengaruh dalam berbahasa asing. Contoh kecil, saat mereka menginjakkan kaki di bangku sekolah dan universitas, ada diantara pengajar yang menjadikan aksen sebagai tolak ukur penilaian siswa/mahasiswa. Terlepas dari adil atau tidaknya, itulah yang mereka alami.
Topik kali ini mengingatkanku kembali pada percakapan dengan seorang teman dua bulan lalu dalam perjalanan ke rumah sepulang dari kampus. Dia bertanya “…… How long have we been here?” Kujawab “Eight months, I guess” Dia melanjutkan ujarannya ” You’re right, it’s been eight months. Oh, my Goodness! I haven’t got any progress with my English, even my accent… It remains the same. How can I go home?” Percakapan itu terputus karena ternyata kami harus berpisah di persimpangan jalan. Kembali aku mengingatnya hari ini sembari berpikir mengapa orang-orang berusaha sekeras mungkin merubah aksennya. Apakah waktu 8 bulan cukup untuk menghilangkan aksen asli seseorang? Mengapa pula harus khawatir kembali ke negeri sendiri tanpa bekal aksen bule? Bukankah kita punya aksen sendiri? Tapi yah.. kembali lagi ke ekspektasi masing-masing individu dalam mempelajari bahasa asing.
Apa yang dikatakan 3 pembicara diatas adalah benar adanya buatku dan teman yang lain dalam diskusi kami. Satu persatu kami berbagi pengalaman akan topik ini. Salah satu teman menuturkan bahwa pernah dalam satu seminar, pihak universitas mengundang salah seorang professor dari universitas terkemuka. Aku lupa nama universitasnya apa, yang pasti beliau notabenenya adalah orang Asia yang tidak terhindarkan lagi bahwa aksennya tetap meng-Asia. Hampir semua peserta seminar mengeluh dan mengungkapkan rasa kecewa mereka karena ternyata pembicara yang beraksen sebagaimana seharusnya penutur asli bahasa Inggris tidaklah seperti yang mereka harapkan. Seminar itu menjadi hambar dan audiens tidak lagi menaruh perhatian terhadap materi yang dibawakan pembicara tersebut.
Pengalaman serupa juga dialami oleh seorang teman yang pernah mengikuti konferensi di salah satu universitas di negeri kita. Kebetulan dia juga berperan sebagai pembicara dalam even itu. Dia mengungkapkan kekecewaannya dengan alasan ada beberapa hadirin yang sama sekali tidak memperhatikan materi yang dia antarkan. Mereka malah sibuk mengomentari dan mengagumi aksen pemateri yang menurut mereka sangat mengagumkan. Perlu diketahui bahwa audiens menganggap aksen pembicara adalah aksen Amerika. Setelah beberapa kali mengadakan konferensi di Indonesia, hal yang sama kembali berulang dan selalu permasalahannya adalah aksen, bukan materi yang telah dia persiapkan semaksimal mungkin.
Disinilah letak kesalahan sebagian orang yang seringkali menjadikan penutur asli sebagai kiblat mereka dalam bertutur bahasa asing. Aksen tidak semudah itu untuk dirubah meskipun ada yang mengaku bahwa mereka sangat piawai dalam menirukan berbagai macam aksen. Perlu waktu dan atmosfir yang cukup untuk mendukung usaha tersebut dan tidak semua orang berkesempatan untuk mendapatkannya. Lippi (1996) menyatakan dalam tulisannya bahwa orang dewasa akan sangat sulit mempelajari bahasa asing karena mereka mempunyai banyak kelemahan. Beliau menggambarkan bahwa memori yang ada telah pudar, bahkan nyaris tidak dapat difungsikan lagi meskipun mereka telah berupaya semaksimal mungkin. Memori itu tidak akan kembali seperti sedia kala saat mereka masih kanak-kanak yang dengan mudah menyerap ilmu.
Lebih jauh, Lippi menegaskan bahwa aksen bukanlah faktor penentu berhasil tidaknya seseorang untuk mampu menggunakan dan menginterpretasikan bahasa secara efektif. Merubah aksen dan bertutur seperti layaknya penutur asli tidak akan banyak berguna. Apa yang diungkapkan Lippi benar adanya. Banyak orang yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing tanpa harus mengganti aksen mereka. Butros Butros Ghali, Benazir Bhutto, Corazon Aquino dan Joseph Conrad adalah contoh konkrit yang tetap bertahan dengan aksen mereka apa adanya. Dosen kami kemudian berbagi cerita bahwa ayahnya berpesan, “Aksen apapun itu, hal yang paling penting adalah bagaimana membuat orang mengerti maksudmu, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun engkau bertutur” Ungkapan yang sangat sederhana, tapi artinya sangat dalam. Bisakah kita menjadi seperti itu?
Kadang geli juga saat mendengar orang-orang di sekitar yang berusaha semaksimal mungkin memperbaharui aksen mereka. Ada yang pura-pura cadel, ada yang memodifikasi intonasi pengucapan mereka, dan lain sebagainya. Semua itu perlu dihargai. Tapi apakah itu berarti malah menghilangkan identitas mereka dan menjadi jaminan untuk dapat lebih dipahami dalam bertutur bahasa asing atau bahkan membingungkan orang lain? Bagaimana dengan anda?