Entah apa yang mengingatkan saya pagi ini pada Indomie, santapan kebanyakan orang Indonesia. Mungkin karena dua hari ini makanan itu yang sempat ‘menyelamatkan’ saya gara-gara terlalu sibuk dengan kerjaan yang tidak memungkinkan untuk masak dan mencari makanan di luar. Memang mi instant itu selalu ada dan selalu menjalankan perannya seperti niat empunya.
Popularitas Indomie di Indonesia memang tidak meragukan lagi. Kadang kita mengkonsumsi jenis mi instant lain tapi tetap saja menyebutnya Indomie. Menggelikan, tapi itulah ungkapan yang tidak jarang saya dengar dari para penggemar mi instant. Sampai April tahun lalu pun saya menganggap bahwa makanan ini hanya populer di Indonesia. Ternyata setelah itu anggapan saya berubah total. Pikiran saya terlalu dangkal.
Pekan pertama menginjakkan kaki di negeri kanguru ini ternyata Indomie sangat mudah ditemukan. Maraknya ‘Asian Groceries’ sangat membantu para mahasiswa/i untuk tetap mengandalkan jenis mi instant ini dan tidak kalah hebatnya lagi, supermaket pun menyediakannya dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan berbekal uang $1, konsumen sudah bisa memperoleh 4 bungkus mi dengan perhitungan 25 c/kemasan. Kalau dikonversi ke Rupiah jadinya Rp 8575/4 bungkus. Wah, bisnis yang menjanjikan. Di Indonesia mungkin harganya berkisar Rp 1000. Tidak terlalu berlebihan kalau memang Indomie sangat diminati. Tiap kali saya mengunjungi toko penyedia mi ini, selalu saja saya mendapati rak yang nyaris kosong dan tentu saja selalu saja ada pelanggan yang sibuk memilah jenis rasa apa yang mereka sukai. Boleh dibilang kalau Indomie inilah yang paling laris dibandingkan dengan produk Indonesia lainnya. Belum sempat bertanya sih ke pemilik toko, tapi bertolak dari pengamatan saya, konsumen makanan ini paling tidak mengambil dua kemasan selama transaksi.
Beberapa bulan lalu saya menghadiri acara makan siang di salah satu universitas dan sempat berbincang dengan salah seorang penduduk asli Australia. Setelah ngobrol kesana kemari, ternyata topiknya sampai juga ke makanan. Dia mengaku suka Indomie karena aromanya yang tidak terlalu tajam dan lumayan akrab dengan lidah mereka. Lain lagi dengan seorang teman dari Pakistan yang menyenangi makanan ini karena bumbunya yang kurang lebih sama dengan makanan khas mereka. Teman-teman dari negara lain pun juga mengungkapkan hal serupa. Bahkan terkadang mereka mengandalkan mi instant “Indomie” sama seperti orang-orang dimana makanan ini berasal.
Memang harus diakui bahwa jaringan bisnis ini sudah begitu kuatnya hingga produknya bukan lagi hanya terbatas pada bisnis nasional tapi juga telah mendunia dan tidak diragukan lagi kalau santapan ini bukan hanya menjadi menu andalan pada saat-saat urgent tapi juga dikonsumsi sebagai santapan wajib buat sebagian orang. Bagaimana dengan anda?
indomie itu