Feeds:
Tulisan
Komentar

The issue of NESTs and Non-NESTs have been widely discussed by those who are concerned on the importance of ELT education. In what circumtances both NESTs and Non-NESTs can teach effectively and how to maintain Non-NESTs’ existence?

I notice McKay’s (2003) elaboration about the existence of NESTs and Non-NESTs as the models in teaching English. He states that the misconception about NESTs as the best models in ELT has restricted Non-NESTs’ opportunities in job provision. I agree with this notion since in several cases in Indonesia, NESTs are still preferable rather than Non-NESTs due to the people’s belief that the native speakers always offer more than the non-native speakers in language learning. I am afraid that the recruitment of the L2 teachers is merely emphasized on the teachers’ status as the native speakers without considering their ability to conduct good ELT.

During my teaching period in an English course center in my hometown, I found that being a Non-NEST offers a lot of advantages that can not be obtained by NESTs. For instance, teaching in English beginners’ class requires the ability to speak Indonesian language since participants unable to understand the whole materials delivered in target language. Sometimes teacher are required to clarify certain words from the L2 to the  L1. This method is quite hard for the NESTs to be implemented even some believe that body language and clues also can be used in this case. However, further explanation in L1 is still needed. That is why, I agree with Medgyes’s (1992) contention that Non-NESTs position in ELT is still can be maintained since they provide benefits, such as competence in speaking first language, good understanding of what their students need in learning and ability to reflect their experiences to learners as well. So, why do the non-NESTs afraid of being marginalized by the NESTs? I believe that being a non-NEST is a strategic position in ELT as long as they have sufficient knowledge, experience and skill in teaching the target language.

 

Reference

McKay, S. L. (2003). Toward an appropriate EIL pedagogy: Re-examining common   ELT assumptions. International Journal of Applied Linguistics, 13 (1), 1-21.

 

Tidak terasa sudah empat pekan aku kembali lagi bergelut dengan rutinitas kampus setelah lebih dari dua bulan liburan. Topik bahasan siang ini sangat menarik. Kami membahas tentang pengaruh aksen dalam penggunaan bahasa Inggris baik oleh penutur asli maupun penutur asing. Seorang teman dari Oman menayangkan hasil rekamannya sesaat sebelum kuliah hari ini dimulai. Ada 3 rekaman dengan 3 pembicara yang isinya kurang lebih mengungkapkan seberapa besar pengaruh aksen buat mereka dan apakah mereka berniat atau berusaha merubah aksen mereka selama bertutur dalam bahasa Inggris. Ketiga penutur mengungkapkan hal yang sama bahwa sebenarnya aksen tidak terlalu penting walaupun buat sebagian orang hal ini sangatlah penting untuk menunjang interaksi mereka dalam bahasa asing ataupun untuk kepentingan lainnya. Hal yang paling penting adalah bagaimana agar lawan bicara kita dapat mengerti maksud kita.

Dalam diskusi hari ini, beberapa teman mengungkapkan pengalaman mereka berkenaan dengan aksen. Diantara mereka ada yang sepakat bahwasanya aksen itu sangat berpengaruh dalam berbahasa asing. Contoh kecil, saat mereka menginjakkan kaki di bangku sekolah dan universitas, ada diantara pengajar yang menjadikan aksen sebagai tolak ukur penilaian siswa/mahasiswa. Terlepas dari adil atau tidaknya, itulah yang mereka alami.

Topik kali ini mengingatkanku kembali pada percakapan dengan seorang teman dua bulan lalu dalam perjalanan ke rumah sepulang dari kampus. Dia bertanya “…… How long have we been here?” Kujawab “Eight months, I guess” Dia melanjutkan ujarannya ” You’re right, it’s been eight months. Oh, my Goodness! I haven’t got any progress with my English, even my accent… It remains the same. How can I go home?” Percakapan itu terputus karena ternyata kami harus berpisah di persimpangan jalan. Kembali aku mengingatnya hari ini sembari berpikir mengapa orang-orang berusaha sekeras mungkin merubah aksennya. Apakah waktu 8 bulan cukup untuk menghilangkan aksen asli seseorang? Mengapa pula harus khawatir kembali ke negeri sendiri tanpa bekal aksen bule? Bukankah kita punya aksen sendiri? Tapi yah.. kembali lagi ke ekspektasi masing-masing individu dalam mempelajari bahasa asing.

Apa yang dikatakan 3 pembicara diatas adalah benar adanya buatku dan teman yang lain dalam diskusi kami. Satu persatu kami berbagi pengalaman akan topik ini. Salah satu teman menuturkan bahwa pernah dalam satu seminar, pihak universitas mengundang salah seorang professor dari universitas terkemuka. Aku lupa nama universitasnya apa, yang pasti beliau notabenenya adalah orang Asia yang tidak terhindarkan lagi bahwa aksennya tetap meng-Asia. Hampir semua peserta seminar mengeluh dan mengungkapkan rasa kecewa mereka karena ternyata pembicara yang beraksen sebagaimana seharusnya penutur asli bahasa Inggris tidaklah seperti yang mereka harapkan. Seminar itu menjadi hambar dan audiens tidak lagi menaruh perhatian terhadap materi yang dibawakan pembicara tersebut.

Pengalaman serupa juga dialami oleh seorang teman yang pernah mengikuti konferensi di salah satu universitas di negeri kita. Kebetulan dia juga berperan sebagai pembicara dalam even itu. Dia mengungkapkan kekecewaannya dengan alasan ada beberapa hadirin yang sama sekali tidak memperhatikan materi yang dia antarkan. Mereka malah sibuk mengomentari dan mengagumi aksen pemateri yang menurut mereka sangat mengagumkan. Perlu diketahui bahwa audiens menganggap aksen pembicara adalah aksen Amerika. Setelah beberapa kali mengadakan konferensi di Indonesia, hal yang sama kembali berulang dan selalu permasalahannya adalah aksen, bukan materi yang telah dia persiapkan semaksimal mungkin.

Disinilah letak kesalahan sebagian orang yang seringkali menjadikan penutur asli sebagai kiblat mereka dalam bertutur bahasa asing. Aksen tidak semudah itu untuk dirubah meskipun ada yang mengaku bahwa mereka sangat piawai dalam menirukan berbagai macam aksen. Perlu waktu dan atmosfir yang cukup untuk mendukung usaha tersebut dan tidak semua orang berkesempatan untuk mendapatkannya. Lippi (1996) menyatakan dalam tulisannya bahwa orang dewasa akan sangat sulit mempelajari bahasa asing karena mereka mempunyai banyak kelemahan. Beliau menggambarkan bahwa memori yang ada telah pudar, bahkan nyaris tidak dapat difungsikan lagi meskipun mereka telah berupaya semaksimal mungkin. Memori itu tidak akan kembali seperti sedia kala saat mereka masih kanak-kanak yang dengan mudah menyerap ilmu.

Lebih jauh, Lippi menegaskan bahwa aksen bukanlah faktor penentu berhasil tidaknya seseorang untuk mampu menggunakan dan menginterpretasikan bahasa secara efektif. Merubah aksen dan bertutur seperti layaknya penutur asli tidak akan banyak berguna. Apa yang diungkapkan Lippi benar adanya. Banyak orang yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing tanpa harus mengganti aksen mereka. Butros Butros Ghali, Benazir Bhutto, Corazon Aquino dan Joseph Conrad adalah contoh konkrit yang tetap bertahan dengan aksen mereka apa adanya. Dosen kami kemudian berbagi cerita bahwa ayahnya berpesan, “Aksen apapun itu, hal yang paling penting adalah bagaimana membuat orang mengerti maksudmu, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun engkau bertutur” Ungkapan yang sangat sederhana, tapi artinya sangat dalam. Bisakah kita menjadi seperti itu?

Kadang geli juga saat mendengar orang-orang di sekitar yang berusaha semaksimal mungkin memperbaharui aksen mereka. Ada yang pura-pura cadel, ada yang memodifikasi intonasi pengucapan mereka, dan lain sebagainya. Semua itu perlu dihargai. Tapi apakah itu berarti malah menghilangkan identitas mereka dan menjadi jaminan untuk dapat lebih dipahami dalam bertutur bahasa asing atau bahkan membingungkan orang lain? Bagaimana dengan anda?

Hewan peliharaan?

Sudah dua hari tulisan ini tertunda karena kesibukan yang sama sekali sulit ditinggalkan. Berawal dari siang yang terik sebelum ke kampus. Seperti biasanya, aku selalu menyempatkan diri mengecek kotak surat di depan unit tempat tinggal saya. Pertanyaan yang selalu berulang, “Ada surat tidak ya…?” Ternyata tidak ada surat buatku kecuali Yellow Pages dan satu buku kecil bertuliskan 2008 Community Directory (City of Monash). Kuputuskan untuk memilih buku yang terakhir. “Sepertinya menarik untuk dibaca…”, batinku. Buku itu kemudian tersimpan dengan rapi di dalam tasku bersama seabrek buku-buku pinjaman dari perpustakaan kemarin. Sepulang dari kampus, kucoba membuka dan sedikit mencermati isi buku mungil itu. Informasi di dalamnya lumayan menarik dan lengkap buat bekal selama bermukim disini. Sampailah pada halaman 12 yang berisikan informasi tentang Animal Management khususnya pada wilayah City of Monash, Victoria Australia.

Masalah ini selalu menjadi salah satu fokus perhatianku mengingat minimnya peraturan tentang pengawasan hewan peliharaan di negeri kita. Bagian pertama halaman ini memuat tentang jumlah binatang/unggas yang diperbolehkan untuk dipelihara penduduk setempat seperti kucing-3, anjing-2, unggas-5, khusus untuk merpati pemerintah setempat menetapkan batas maksimal 10 ekor, babi -8, tikus-8, dan kelinci-5 ekor. Satu hal yang melegakan buat pecinta ikan, jumlah peliharaan untuk binatang ini tidak diberikan batas maksimal meskipun dibatasi pada cold water dan tropical gold fish. Dalam peraturan ini tercantum bahwa tidak ada seorangpun yang diperkenankan memelihara binatang/unggas selain yang telah ditetapkan. Tanpa disebutkanpun kita sudah maklum bahwa ganjaran untuk pelanggaran peraturan ini sudah menanti. Jadi siapa yang akan menangggung resiko?

Peraturan diatas disusul lagi dengan Animal Registration yang menyatakan bahwa hewan peliharaan seperti anjing dan kucing harus segera diregistrasi pada saat umur mereka menginjak 3 bulan ke atas.

Ulasan tentang Animal Law ini mengingatkanku kembali pada satu kawasan wisata di negeri kita yang luar biasa indahnya. Satu hal yang mungkin menjadi masalah ada wisatawan yang tidak terbiasa dengan kehadiran hewan bernama “anjing” yang berkeliaran disana-sini dengan bebasnya. Entah itu sengaja dilepaskan oleh empunya atau memang mereka tidak bertuan. Mengapa di negara kita tidak ada peraturan yang mengikat seperti halnya peraturan yang kukemukakan sebelumnya ya? Padahal dilihat dari sisi kenyamanan dan kebersihan, mungkin banyak orang yang merasa terusik dengan kehadiran hewan ini karena tidak semua orang terbiasa. Entahlah…

Jauh sebelum keberangkatanku ke Victoria, fenomena ini sudah menjadi salah satu pusat perhatianku. Kekhawatiran itu sirna setelah aku menginjakkan kaki di negeri yang banyak orang memaklumi bahwa binatang peliharaan seperti anjing adalah hal yang sangat lumrah disini. Memang betul, hampir tiap hari kita mendapati binatang ini di setiap sudut jalan. Tapi dalam setting apa? Inilah bedanya dengan di negeri kita. Hewan itu terlihat sangat terawat dan tidak leluasa berkeliaran sesukanya. Aku merasa bahwa mereka telah disulap sedemikian rupa hingga menjadi sosok yg nyaman tuk dipandangi dan kadang membuat kita tersenyum melihat tingkah polahnya. Yang lebih melegakan lagi, mereka harus selalu berada dalam pengawasan tuannya.

Aku jadi teringat akan kejadian bulan lalu. Saat itu aku dan dua orang teman berpapasan dengan wanita paruh baya di taman sambil ditemani anjing kecilnya. Tiba-tiba mereka menghentikan langkah tepat di samping ‘rubbish bin’. Kulihat wanita itu mengeluarkan kantung plastik dari sakunya sambil menunggui hewan peliaharaannya yang sedang membuang kotoran. Setelah itu, dengan telaten si empunya memunguti kotoran peliharaannya kemudian membuangnya pada tempat sampah yang telah tersedia. Wah… pemandangan yang sungguh luar biasa buatku! Aku dan dua temanku kemudian larut dalam pikiran kami masing-masing. Mungkin kami memikirkan hal yang kurang lebih sama. Sebesar itukah kesadaran pemilik hewan peliharaan di negeri kanguru ini? Tidak heran negara ini bersih.. Kadang terbersit pertanyaan di benakku “Kapan ya, ada peraturan yang mengikat seperti itu di negeri kita?”

« Newer Posts